1. Startup

Melirik Hipotesis Insignia Ventures Terhadap Prospek Startup Indonesia

Insignia Ventures incar startup pengembang platform web3, pertanian, kesehatan, dan solusi perubahan iklim untuk diinvestasikan melalui dana kelolaan ketiganya

Dinamika startup yang terus berkembang, turut memengaruhi bagaimana hipotesis para investor sebelum menanamkan pendanaannya. Insignia Ventures melihat pada tahun ini, berkat gelombang digitalisasi yang didorong oleh pandemi, muncul startup baru dari berbagai sektor yang bahkan relatif terdepan dalam segi inovasi.

Dalam wawancara bersama DailySocial.id, Founding Managing Partner Yinglan Tan menjelaskan, “Bahkan mereka [startup] berada di ruang yang relatif terdepan seperti web3, pertanian, perawatan kesehatan, hingga iklim. Kami ingin memainkan peran kami dalam mendukung usaha ini lebih awal dan membantu mendorong mereka lebih jauh.”

Sektor-sektor unggulan inilah yang akan didukung perusahaan melalui dana kelolaan yang baru diumumkan yang difokuskan pada pendanaan tahap awal. Pada kelolaan yang ketiga ini, Insignia Ventures berhasil mengumpulkan dana sebesar $516 juta (lebih dari 7,7 triliun Rupiah); diklaim kelebihan permintaan (oversubscribed).

Dana tersebut terbagi menjadi tiga jenis kelolaan, yakni sebesar $388 untuk fund utama IVPF III, $28 juta untuk fund Entrepreneurs yang berinvestasi di samping fund utama; dan $100 juta untuk Annex Fund I. Investor yang berpartisipasi dalam putaran ini berasal dari institusi utama, termasuk dana kekayaan negara (sovereign wealth funds), yayasan, dana abadi universitas, dan kantor keluarga terkenal dari Asia, Eropa, dan Amerika Utara.

Tan tidak merinci spesifik seperti apa persentase dana yang akan disalurkan untuk startup Indonesia. Namun, dari dana kelolaan sebelumnya, persentase investasi untuk startup lokal mengambil jumlah yang signifikan karena negara ini menjadi pasar inti bagi Insignia Ventures berkat ukuran pasar dan peluang bisnis yang beragam yang dihadirkan.

Bahkan, sambungnya, meski ada beberapa pemain yang sudah mendominasi, portofolio dari Insignia diklaim tetap mampu ambil ruang baru, terutama di dua area. Yakni, digitalisasi bisnis tradisional dan perusahaan posisi tandingan atau startup yang membangun produknya atas dasar kesenjangan dari perusahaan teknologi yang lebih besar dalam hal segmen pasar atau kedalaman produk.

“Oleh karena itu, kami berharap aktivitas kami di Indonesia akan terus berkembang dalam dekade ini, tetapi pada saat yang sama, kami juga ingin membuka lebih banyak peluang di pasar seperti Vietnam, Filipina, dan Thailand.”

Secara terpisah dalam keterangan resmi, Tan menyampaikan alasan mengapa pihaknya tertarik untuk berinvestasi lebih agresif pada “sektor potensial berikutnya” seperti web3, teknologi iklim, perawatan kesehatan, dan pertanian. Dia bilang, dampak yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan terbesar di luar Asia Tenggara dalam dekade terakhir akan menjadi permulaan baru dibandingkan dengan dampak yang akan dibuat oleh pembuat pasar pada dekade berikutnya.

Menurutnya, ada keselarasan yang tidak penting, tetapi kritis antara solusi yang keluar dari area ini dan masalah lama di wilayah ini dari keberlanjutan pangan ujung ke ujung hingga kepercayaan dengan institusi. Solusi untuk masalah ini tidak dapat diselesaikan oleh startup teknologi saja dan sektor-sektor ini sendiri mungkin masih awal.

“Tetapi pendiri yang tepat yang cocok dengan masalah yang tepat dapat memecahkan masalah, dan itulah tepatnya mengapa kita tidak dapat membuang waktu dalam “pemecahan masalah “waktu emas” ini untuk mendukung mereka.”

Dari awal Insignia Ventures debut di 2017, pihaknya akan terus melanjutkan misi awalnya untuk mendukung para pendiri startup dalam membangun perusahaan hebat, melihat peluang dalam membangun teknologi secara menyeluruh di berbagai industri dan aktivitas sebagaimana digital kini sudah mengambil alih lebih banyak aspek kehidupan dan bisnis.

“Saat kita mulai di tahun 2017, investor secara global masih belum familiar dengan potensi ekonomi digital Asia Tenggara. Pada tahun 2019, ketika kami mengumpulkan dana kedua kami, ada lebih banyak perhatian tetapi masih lebih utama diarahkan ke e-commerce, fintech, dan perusahaan raksasa di kawasan ini dengan putaran pertumbuhan yang besar-besaran.”

Tekanan atas tren pengetatan likuiditas

Terlepas dari inflasi global yang menjadi tantangan berat bagi pasar teknologi secara keseluruhan, Insignia Ventures justru memandang kondisi tersebut sebagai “waktu emas” bagi para pemimpin dan pembuat pasar ekonomi digital untuk bermunculan.

Tan menuturkan, pihaknya melihat peluang sekali dalam satu dasawarsa untuk menangkap keuntungan yang lebih besar karena jadi pemenang terpapar sangat jelas ketika kondisi sedang pasang surut. Di saat yang bersamaan, pemenang itu tidak dapat ditentukan begitu saja oleh valuasi dan skala bisnis, sebab pada akhirnya perusahaan dengan unit ekonomi yang berkelanjutan dan penciptaan nilai yang konkret jadi faktor terpenting.

“Ada keseimbangan yang baik antara kecepatan dan daya tahan yang menentukan pencarian kami untuk memperoleh pengembalian terbaik. Ini adalah 'golden hour' ketika pemimpin pasar Asia Tenggara dalam dekade ini akan dicetak. Lanskap pendanaan di regional ini berada dalam posisi terbaik karena investor sekarang lebih strategis dengan alokasi mereka daripada sebelumnya, katakanlah seperti di tahun 2021 atau 2019.”

Di Indonesia, Insignia Ventures memiliki sejumlah portofolio, di antaranya platform ritel mobil Asia Tenggara Carro, platform wealthtech Ajaib, perusahaan fintech Payfazz (sekarang Fazz Financial), platform e-commerce enablerShipper, platform open financeBrankas, dan beberapa lainnya yang sudah memiliki bisnis dan tim di Indonesia.

More Coverage:

Perusahaan pertama kali debut dengan fund sebesar $120 juta, kemudian melakukan penggalangan yang kedua sebesar $200 juta di 2019. Selama lima tahun terakhir ini, pendekatan Insignia Ventures berhasil mendukung para founder startup dalam membangun bisnisnya sebagai pemimpin pasar di Asia Tenggara, menciptakan dampak yang lebih besar untuk semua orang.

Hingga saat ini, Insignia Ventures bernilai $46 miliar dengan modal yang diinvestasikan sebesar $304,9 juta, dengan rasio kerugian kurang dari 2%. Perusahaan portofolionya juga berhasil menarik investasi lanjutan sebesar $7,7 miliar. Dengan seluruh kinerja ini, Yinglan melihat ini hanya sebagai puncak gunung es dalam hal berapa banyak lagi penciptaan pasar teknologi yang dapat dihasilkan dari wilayah tersebut.

“Kami bangga dengan dampak yang telah diciptakan oleh perusahaan portofolio kami dan bangga telah bermitra dengan mereka sejak awal, melalui pertumbuhan bersama mereka dan menyaksikan secara langsung bagaimana mereka telah membentuk ekonomi digital Asia Tenggara. Tapi ini masih awal bagi kami; ini masih merupakan hari-hari awal digitalisasi di kawasan ini. Kami percaya ada lebih banyak peluang bagi perusahaan semacam itu untuk muncul di Asia Tenggara,” pungkas Tan.

Are you sure to continue this transaction?
Yes
No
processing your transaction....
Transaction Failed
Try Again

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter
Are you sure to continue this transaction?
Yes
No
processing your transaction....
Transaction Failed
Try Again